Tuhan di Ruang Publik: Antara Religius
Simbolik dan Religius Esensial
| Sumber gambar: nelfisyafrina.blogspot.com |
Simbol-simbol
agama biasanya menjadi sarana paling mudah untuk mengklaim segala sesuatu bersifat
religius. Misalnya seorang yang memakai gamis, kopiah, berjanggut, dan memiliki
ashari sujud (tanda hitam di dahi)
akan lebih terlihat sebagai seorang yang religius, dibanding seseorang yang
memakai celana jeans, kaos oblong, dan tidak ada janggut serta ashari sujudnya. Simbol-simbol fisik nyatanya
mudah digunakan sebagai klaim paling religius, paling beriman dan sebagainya, meskipun secara esensi tidak
selalu demikian.
Simbol-simbol
agama kian marak digunakan di ruang publik. Di beberapa kota misalnya kerap
memasang asma-asma Allah di sepanjang
jalan. Selain asma-asma Allah,
terdapat pula tugu-tugu yang mengandung lafadz Allah. Atribut-atribut dimaksudkan
sebagai upaya untuk mencerminkan sebuah kota sebagai kota yang religius, paling
islami dan sebagainya. Contoh-contoh “tuhan di ruang publik” ini penulis temui
ketika perjalanan di Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Padang Panjang.
![]() |
| Tugu Adipura di Kota Tangerang |
Seberapa
pentingkah atribut-atribut religius yang hanya bersifat simbolik tersebut? Penulis
rasa tidak begitu penting dan tidak begitu memiliki signifikansi, selain hanya sebagai simbol dan penghias
jalan. Sekalipun memiliki signifikansi, mungkin sebatas signifikansi normatif seperti
sebagai pengingat tuhan dan pahala bagi si
pembaca. Untuk mencerminkan sebuah kota sebagai kota yang religius tidak cukup hanya memampang simbol-simbol
kereligiusan.
Kereligiusan
esensial jauh lebih penting ketimbang simbol-simbol religius belaka. Riligius
esensial yang dimaksud adalah nilai-nilai yang terkandung dalam simbol-simbol
agama tersebut, yakni nilai-nilai keagamaan yang seharusnya diaplikasikan dan
bukan sekedar dipertontonkan.
Percuma saja bila kota yang memampang simbol-simbol religius tapi pada kenyataannya kota tersebut belum bebas dari sampah, korupsi para pejabatnya, masayarakatnya tidak tertib, ditambah lokalisasi yang tumbuh bak cendawan di musim hujan. Kota yang tentram, rakyatnya sejahtera, terbebas dari sampah, toleransi dijunjung tinggi jauh lebih baik, karena jelas mencerminkan esensi nilai-nilai keagmaan.
Percuma saja bila kota yang memampang simbol-simbol religius tapi pada kenyataannya kota tersebut belum bebas dari sampah, korupsi para pejabatnya, masayarakatnya tidak tertib, ditambah lokalisasi yang tumbuh bak cendawan di musim hujan. Kota yang tentram, rakyatnya sejahtera, terbebas dari sampah, toleransi dijunjung tinggi jauh lebih baik, karena jelas mencerminkan esensi nilai-nilai keagmaan.
Selain itu,
simbol-simbol keagamaan di ruang publik tidak mencerminkan pluralisme keagamaan.
Cenderung ada dominasi satu kelompok agama. Sudah seharusnya kita menempatkan
nama tuhan pada tempat yang semestinya, yakni di dalam sanubari, yang kemudian
berimplikasi pada aktifitas sehari-hari. Bukan di tengah jalan atau
dipersimpangan jalan yang hanya akan menjadi bahan pertontonan.
Wallahu’alam Bishawwab
