Sejarah: Cinta Tanpa Alasan, Rindu Tanpa Pesan
Oleh: Dirga Fawakih
Tulisan ini bertujuan memaparkan
kisahku dalam memilih, menjalani, dan melewati kuliah di Jurusan Sejarah dan
Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak menggunakan metode
penelitian yang ketat layaknya penelitian sejarah pada umumnya, tulisan ini
hanyalah bagian dari pengalamanku yang dinarasikan atau mungkin lebih tepat
disebut memoar. Selain itu, Aku juga ingin menjelaskan mengenai realita
dunia akademis-kesejarahan yang penulis sempat alami. Perlu ditegaskan bahwa, pendapat penulis tidak bisa digeneralisasikan. Karena tulisan ini hanya ditulis
melalui satu sudut pandang, sehingga sangat subjektif. Namun bukan subjektif
atau objektif yang menjadi pencapaian penulis, namun sejauh mana penulis dapat
berbagi kisah dan diharapkan dapat menjadi renungan kalau tidak bisa dikatakan inspiratif.
Orang kasmaran bilang, kalau
cinta tidak selalu membutuhkan alasan. Begitulah kiranya gambaranku ketika memilih masuk Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tidak ada “beasiswa paksaan”, “disasarkan panitia ujian”, tuntutan orang tua, salah
ambil jurusan (kecelakaan), dimasukan “dosen saudara”, “ikut-ikutan teman”,
atau apapun itu alasan-alasan penyesalan. Bagiku Sejarah adalah cinta
pertama. Iya, itu cinta tanpa alasan yang ku maksud. Tidak pernah
terlintas di benak ku ingin kerja di mana, dan menjadi apa. Ya pokoknya
cinta mau dibilang apa. Namun bukan berarti aku tidak visioner. Segudang
cita-cita tertanam kuat di dalam jiwa. Belum lagi tuntutan orang tua yang
menanyakan kelak mau jadi apa, ditambah ibu mertua yang bertanya mau kerja di
mana.
Pernahkah saudara ditinggal
seorang yang dicinta? Rindu, satu kata untuk menggambarkan segudang rasa yang
bergejolak dalam jiwa. Kecintaan terhadap sejarah tak ayal menumbuhkan sejuta
harapan dan cita-cita bagi mahasiswa sejarah. Namun rindu yang tertanam kian
membuncah saat pesan tidak terbalaskan. Sejarah ternyata tidak memberikan
harapan yang diinginkan, atau pesan yang dirindukan itu. Para alumni sejarah
“kegalauan” saat lulus. Bunga-bunga harapan yang diberikan kawan saat wisuda
kini jadi renungan, mau diarahkan ke mana langkah kaki.
Tidak seperti tiga paragraf di
atas, sesungguhnya konten dari tulisan ini tidak melulu melankolis. Pembahasan
lain yang pula akan membahas meliputi beberapa hal (tentatif) yakni, pembelajaran sejarah, dilema sarjana sejarah, quo
vadis lulusan sejarah?, kompetensi dasar dan jobfair kesejarahan, berdamai
dengan dunia kerja.