Cerita di Separuh Senja
Kala senja tiba, rekan-rekan kantor
sudah antri bebabaris di depan mesin absen yang bawel itu. Hiruk pikuk
itu menjadi kelumrahan setiap harinya. Tapi tidak bagi saya, etiket yang ada
dalam unit saya membuat saya tidak bisa pulang kerja tepat waktu.
Ketika senja sudah memasuki
separuh masanya, dan selasar kantor sudah mulai sepi, saya bergegas untuk
melaksanakan sholat ashar. Kebiasaan buruk saya memang shalat tidak tepat
waktu. Ini sudah terjadi sejak saya kuliah. Tapi siapa tau, bahwa dari
kebiasaan buruk yang positif ini mengantarkan saya pada perkenalan dengan seorang
wanita.
Dalam perjalanan saya menuju
mushollah yang jauhnya tidak lebih dari seratus meter itu, saya berpapasan
dengan sorang wanita yang sedang menunggu lift. Wajahnya memang tidak asing
bagi saya. Karena mushollah di kantor kerap menjadi tempat kita bersua.
Hampir sepuluh bulan sebenarnya
kita bersua di tempat yang mulia itu, namun saya tidak pernah mengetahui
namanya. Lingkar matanya yang unik itu membuat saya kerap bercuri padang.
Sesekali ketahuan ia membalas dengan senyuman. Saya pun kembali membalasnya
dengan senyuman. Saya merasa ada yang berbeda saat menengadahkan wajah saya ke
arahnya.
Pertemuan di mushollah dan kadang
di selasar kantor terjadi sekejap lalu saja, tanpa ada rasa. Memang saya itu
tergolong orang yang minder. Sangat takut berkenalan dengan seorang wanita.
Apalagi seorang wanita karier biasanya memiliki standar pertemanan yang tinggi.
Meskipun tidak seluruhnya begitu. Ya mungkin hanya saya saja yang terlalu
pengecut.
Kini niat shalat saya di kantor
mendua, selain ingin bersua dengan sang khalik, di sisi lain saya berharap
bertemu dengan wanita yang memiliki lingkar mata yg menarik itu.
Sesekali
perjalanan dinas dan kegiatan-kegiatan di luar kantor mengaburkan rasa
penasaran saya untuk berkenalan denganya. Tapi berpapasan dengannya lagi seakan menumbuhkan
kembali benih-benih penasaran itu.
Kembali pada pertemuan saya dengannya di
depan lift. Senja itu mengantarakan kami pada perkenalan yang selama ini saya harapkan.
Seakan pecandu ekstasi yang semakin percaya diri, saya beranikan untuk
menyodorkan tangan seraya berkenalan.
Sebenarnya saya takut dia
mbak-mbak akhwat yang alergi dengan tangan laki-laki. Ternyata tidak, dia balas
sodoran tangan saya plus dengan senyum manisnya. Saya curiga, jangan-jangan
senyum manisnya adalah rasa ingin berkenalan yang juga sudah lama terpendam.
Nama saya Dirga kak. “ohh, saya
Ririn mas” katanya sambil menebar senyum. Menjabat tangannya, mengenal namanya
dan melihat rona senyum manisnya membuat jantung saya kian bergolak. Entah, ini rasa apa. Oke ini
hal yang biasa. Ya namanya juga laki-laki pengecut yang kebetulan sedang
kerasukan saja.
Tinggal di mana mba? “Saya
tinggal di Slipi mas” tukasnya datar. Dilalah dia tidak berbalik tanya saya
tinggal di mana, kasian sekali. Ya saya anggap saja lupa, karena sudah jam
pulang, wajar ia tergesa.
“Hati-hati kak” kata saya sambil melepasnya
masuk ke lift, sayapun lanjut menuju tempat wudhu. Pertemuan yang singkat itu
begitu berkesan bagi saya. Karena telah lama hal ini ingin saya lakukan. Hanya
saja belum menemukan waktu yang tepat. Atau tepatnya tidak berani.
Oke saya harap ini bukan cinta, hanya sebatas kagum
dan tertarik saja dengan lingkar matanya. Karena dirinya begitu sempurna untuk dicinta oleh saya yang
hanya laki-laki biasa. Kata saya lirih selepas berdoa di separuh senja.
***
Dirga Fawakih